Prev:" Bukan 'pernah' ! tapi, 'selalu' ! you, dammit trash! " refleks aku mengeluarkan suara yang begitu kencang dan kau tahulah.. mereka semua tampak kaget. Lalu, mereka tersenyum. Aneh. " Itulah Oga yang kami kenal " kata Furuichi tetap tersenyum. Aku hanya memalingkan muka. Beel sudah tidur setelah dia makan.
Warning!
Chapter 7
- Hilda POV -
" Ano, mistress, apa yang akan anda pesan? "
" ... "
" Mistress? " tanya pelayan itu lagi. Hah.. benar-benar berisik!
" Baiklah, aku pesan pancake saja "
" Baiklah, satu pancake akan segera datang, saya permisi sebentar " lalu meninggalkanku. Hah.. akhirnya. Menunggu mereka benar-benar lama sekali.. apa yang sebenarnya mereka lakukan?
" Hilda-channnn~~! "
Terlihat seorang gadis berambut hitam-biru dengan matanya yang berwarna kuning melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Dan dengan bawaan belanjaannya. " Lama! " bentakku. Dia menghampiriku. " hehehe.. gomen, gomen " kata dia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " mistress, ini daftar menunya " seorang pelayan datang ke pada kami sambil memberikan menu kepada Tsurara.
" Arigato.., ano, aku pesan satu Chicken Mozarella yaa.. "
" Baiklah, satu Chicken Mozarella akan segera datang, saya permisi " kata pelayan itu sembari meninggalkan kami. Tsurara bersiul senang. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari salah satu kantong belanjaannya. " Ne, Hilda-chan~ lihat apa yang aku temukan tadi~ " katanya yang sedang mengeluarkan- entahlah apa itu namanya. " Tataratataaaaa~~!!! " kata dia semangat.
Dia menunjukan sebuah boneka yang rambutnya berwarna blond dengan mata emerald dan juga bajunya ala gothic-lolita. Ini mengingatkanku pada- " Ini mirip kamu kan~? " salah Tsurara, bukan aku, tapi 'dia'. " Atau mungkin 'orang itu' " lanjutnya dengan seringai yang tampak di wajahnya. Ketenggangan meliputi. Terdiam beberapa saat hingga- " Mistress, ini pesanan anda " seorang pelayan mencela pembicaraan kami.
Sebuah pancake tehidang di atas meja. Lalu, aku melihat ke arah Tsurara yang sudah nge-dumel gak jelas " Curang~~ punya Hilda-chann yang deluan " keluh Tsurara yang sekarang bibirnya udah maju sepuluh sentimeter. " kau mau? " tawarku. Tsurara kelihatan senang. Tapi, expresinya langsung berubah muram. " tapi.. kau tak minta apa-apakan? aku tak perlu bayarkan? " kata Tsurara. Sifat minta gratisannya mulai deh. " iya " jawabku. Mata Tsurara berbinar-binar. " Hilda-channnn~!! a-i-shi-te-ru~ " balas Tsurara dengan riangnya dan menghabiskan satu porsi Pancake dan Chicken Mozarella sendiri.
Setelah itu, akhirnya aku yang malah bayar. " Tsurara! " panggil seseorang yang berambut hitam pendek " Keikain-san " balas Tsurara dengan lambaian tangannya yang penuh keceriaan di sekitar. Mereka mengobrol banyak. Aku akhirnya keluar dari restoran itu. Masa mau nungguin terus.
Saat itu, aku berjalan di pertokoan. Banyak toko yang menarik bagiku. Tapi, ada satu yang paling menarik dari seribu toko yang aku lewati. 'Music of Love'. Sebuah toko musik yang keliahatannya kuno ini benar-benar menarik perhatiaanku. Dan jadilah aku memasuki toko ini. Aku tidak melihat ada penjaga tokonya. CD, DVD, dan yang lainnya juga kelihatan kuno namun tetap terawat. Alat-alat musiknya juga.
" what are you looking for, Miss " terdengar ada suara yang bisa aku kira kalau itu adalah penjaga toko yang berada di belakangku. Saat itu pula aku menoleh ke arah asal dan mendapati seorang kakek yang pendek. " nothing, i'm only want to see this store " balasku " what a unique store " lanjutku. Sepertinya kakek itu kelihatan bangga. " of course, because, this store was really full of love " jelas dia sambil tersenyum " so, that's why you call this store 'Music of love'? what a wonderfull name " kataku. Memang nama toko ini yang (sepertinya) membuatku penasaran. " you can call that too.. but, i have another reason too.. " jelasnya. Ok, ini sudah membuatku penasaran " can you tell what it is? " tanyaku. Dia nampak berpikir. " i think it's ok " balasnya sambil tersenyum. Lalu, mengajak ku ke ruangan yang semestinya aku tak pernah masuki.
" Hilda-channnn~~! "
Terlihat seorang gadis berambut hitam-biru dengan matanya yang berwarna kuning melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Dan dengan bawaan belanjaannya. " Lama! " bentakku. Dia menghampiriku. " hehehe.. gomen, gomen " kata dia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " mistress, ini daftar menunya " seorang pelayan datang ke pada kami sambil memberikan menu kepada Tsurara.
" Arigato.., ano, aku pesan satu Chicken Mozarella yaa.. "
" Baiklah, satu Chicken Mozarella akan segera datang, saya permisi " kata pelayan itu sembari meninggalkan kami. Tsurara bersiul senang. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari salah satu kantong belanjaannya. " Ne, Hilda-chan~ lihat apa yang aku temukan tadi~ " katanya yang sedang mengeluarkan- entahlah apa itu namanya. " Tataratataaaaa~~!!! " kata dia semangat.
Dia menunjukan sebuah boneka yang rambutnya berwarna blond dengan mata emerald dan juga bajunya ala gothic-lolita. Ini mengingatkanku pada- " Ini mirip kamu kan~? " salah Tsurara, bukan aku, tapi 'dia'. " Atau mungkin 'orang itu' " lanjutnya dengan seringai yang tampak di wajahnya. Ketenggangan meliputi. Terdiam beberapa saat hingga- " Mistress, ini pesanan anda " seorang pelayan mencela pembicaraan kami.
Sebuah pancake tehidang di atas meja. Lalu, aku melihat ke arah Tsurara yang sudah nge-dumel gak jelas " Curang~~ punya Hilda-chann yang deluan " keluh Tsurara yang sekarang bibirnya udah maju sepuluh sentimeter. " kau mau? " tawarku. Tsurara kelihatan senang. Tapi, expresinya langsung berubah muram. " tapi.. kau tak minta apa-apakan? aku tak perlu bayarkan? " kata Tsurara. Sifat minta gratisannya mulai deh. " iya " jawabku. Mata Tsurara berbinar-binar. " Hilda-channnn~!! a-i-shi-te-ru~ " balas Tsurara dengan riangnya dan menghabiskan satu porsi Pancake dan Chicken Mozarella sendiri.
Setelah itu, akhirnya aku yang malah bayar. " Tsurara! " panggil seseorang yang berambut hitam pendek " Keikain-san " balas Tsurara dengan lambaian tangannya yang penuh keceriaan di sekitar. Mereka mengobrol banyak. Aku akhirnya keluar dari restoran itu. Masa mau nungguin terus.
Saat itu, aku berjalan di pertokoan. Banyak toko yang menarik bagiku. Tapi, ada satu yang paling menarik dari seribu toko yang aku lewati. 'Music of Love'. Sebuah toko musik yang keliahatannya kuno ini benar-benar menarik perhatiaanku. Dan jadilah aku memasuki toko ini. Aku tidak melihat ada penjaga tokonya. CD, DVD, dan yang lainnya juga kelihatan kuno namun tetap terawat. Alat-alat musiknya juga.
" what are you looking for, Miss " terdengar ada suara yang bisa aku kira kalau itu adalah penjaga toko yang berada di belakangku. Saat itu pula aku menoleh ke arah asal dan mendapati seorang kakek yang pendek. " nothing, i'm only want to see this store " balasku " what a unique store " lanjutku. Sepertinya kakek itu kelihatan bangga. " of course, because, this store was really full of love " jelas dia sambil tersenyum " so, that's why you call this store 'Music of love'? what a wonderfull name " kataku. Memang nama toko ini yang (sepertinya) membuatku penasaran. " you can call that too.. but, i have another reason too.. " jelasnya. Ok, ini sudah membuatku penasaran " can you tell what it is? " tanyaku. Dia nampak berpikir. " i think it's ok " balasnya sambil tersenyum. Lalu, mengajak ku ke ruangan yang semestinya aku tak pernah masuki.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar